Kamis, 08 April 2010

MANUSIA dan PENDERITAAN

*KEHIDUPAN MANUSIA TIDAK KEKAL

Manusia yang hidup di dunia ini selalu mengalami proses tumbuh dan berkembang. Mula-mula manusia dilahirkan sebagai bayi, kemudian tumbuh menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, adan akhirnya meninggal dunia. Menjadi tua adalah suatu proses kehidupan yang sangat alami; tak seorang pun dapat mencegah proses penuaan ini. Meninggal dunia juga merupakan suatu proses yang pasti akan dialami oleh semua manusia yang dilahirkan; tak seorang pun dapat menghindar dari kematian. Tidak ada kematian bagi manusia yang telah lahir adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena manusia yang dilahirkan pasti akan mengalami kematian.

Dalam kitab suci Dhammapada Bab X ayat 135, Sang Buddha bersabda, “ Bagaikan seorang penggembala menghalau sapi-sapinya dengan tongkat ke padang rumput, begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan makhluk-makhluk.”

Ya….semuanya berjalan dari kelahiran menuju kematian. Semuanya mengalami proses perubahan yang terus menerus. Setiap hari rupa atau jasmani manusia selalu mengalami proses perubahan yang tiada henti-hentinya. Dalam jasmani manusia tidak ada sesuatu yang tetap atau kekal. Demikian pula dengan nama atau batin manusia yang selalu mengalami ketidakkekalan atau anicca. Batin manusia yang terdiri atas perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentuk-bentuk pikiran (sankhara). Dan kesadaran (vinnana) itu selalu berubah-ubah.

Kedaan yang dialami oleh manusia juga berubah-ubah. Keberhasilan dan kegagalan, untung dan rugi, kemasyhuran dan nama buruk, penghormatan dan penghinaan, pujian dan celaan, kepuasan dan kekecewaan, suka dan duka silih berganti mencengkeram kehidupan manusia. Suatu waktu manusia mengalami keadaan yang menyenangkan, seperti untung, termasyhur, dipuji atau suka. Namun, pada waktu lain manusia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, seperti rugi, nama, buruk, dicela, atau duka.

Pada umumnya manusia merasa gembira bila mengalami keadaan yang menyenangkan. Kadang-kadang di antara mereka ada yang lupa diri dan menganggap bahwa keadaan itu akan berlangsung terus. Pada umumnya manusia ingin sehat terus menerus, makan enak teru-menerus, untung terus menerus, memiliki harta terus menerus, dipuji terus menerus, anak-anak baik terus menerus, suami atau istri setia terus menerus, bahkan hidupnya juga ingin terus menerus. Namun, itu adalah tidak mungkin karena segala sesuatu adalah tidak kekal.

Sebaliknya, bila manusia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan pada umumnya mereka akan kecewa, sedih dan beranggapan bahwa seakan-akan hidupnya tidak berarti lagi. Mereka tidak sanggup menerima beban yang amat berat itu. Mereka merasa bahwa penderitaan itu datang menimpanya terus menerus. Mereka menganggap bahwa penderitaan yang dialaminya itu tidak akan pernah berakhir. Mereka merintih dan meronta-ronta ingin mengakhiri penderitaan itu secepatnya, bahkan dengan cara yang justru kian memperburuk kondisi yang ada, seperti melakukan bunuh diri. Ini merupakan tindakan yang keliru.



I.PENDERITAAN KARUNI TUHAN

Mereka yang hanya memuja-Ku saja, tanpa memikirkan yang lainnya lagi, yang senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan Ku lindungi segala apa yang mereka miliki.

Berbahagialah dilahirkan menjadi manusia, karena hanya manusialah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk walau hidup kita tidak makmur, hendaklah menjadikan kita berbesar hati. Sebab amat sulit dapat dilahirkan menjadi manusia, meski kelahiran hina sekalipun. Demikian wejangan yang disampaikan oleh Bhagawan Wararuci dalam kitab suci Sarasamuscaya.

Manusia tidak dapat lari dari kenyataan hidup yang penuh dengan perjuangan membangun cinta kasih dalam diri dan di tengah-tengah masyarakat. Tentu perjuangan ini tidak mudah, memerlukan pengorbanan terus-menerus baik pisik, materi bahkan psikis. Membina cinta kasih dengan sesama manusia dan kepada Tuhan sering lenyap dihanyutkan oleh berbagai kepentingan dan bersifat pamrih. Kita dapat melihat dalam dinamika kehidupan modern ini, ada sesuatu yang bergeser. Salah satu aspek yang bergeser adalah orientasi hidup manusia mencari "KETENANGAN JIWA" bergeser menjadi mencari "KESENANGAN DUNIAWI". Kesenangan duniawi itulah dianggap sebagai tujuan hidup (hedonisme) yang benar. Mencari senangan hidup tanpa kesadaran untuk membatasi diri akan menimbulkan penderitaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Hidup yang hanya mengejar kesenangan duniawi menyebabkan timbulnya gaya hidup biaya tinggi. Gaya hidup biaya tinggi melahirkan manusia sibuk mencari uang. Untuk dapat bersenang-senang membutuhkan uang yang banyak. Contoh : orang yang kecanduan Narkoba, kecanduan miras, kecanduan judi, kecanduan main perempuan, semua ini memerlukan uang yang tidak sedikit. Akibat pengaruh dari kecanduan ini segala cara pun dilakukan, yaitu mencopet, menipu, pemerasan, pengancaman, merampok, memperkosa dan membunuh. Sebagai terminal hasil perbuatannya itu menghuni rumah dengan tembok jeruji besi.

Kata kunci dalam menjalani dinamika hidup sebagai manusia ada empat. Pertama, apapun yang kita miliki dan seberapa pun kita mendapat reziki kita harus dapat mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, karena semuanya itu adalah titipan yang suatu saat akan meninggalkan kita. Kedua, Jadikanlah kitab suci Veda sebagai pedoman hidup untuk menuntun ke jalan yang diberkati. Ketiga, yang dapat menolong diri kita dari lembah penderitaan adalah diri kita sendiri, yaitu dengan semangat dan tekad yang kuat untuk menjadi manusia yang memiliki jati diri. Keempat, dekatkan diri pada Tuhan, agar segala ujian berat dapat kita lewati dengan hati yang lapang.

Tuhan telah berjanji "Mereka yang hanya memuja-Ku saja, tanpa memikirkan yang lainnya lagi, yang senantiasa penuh pengabdian, kepada mereka Ku bawakan segala apa yang mereka tidak punya dan Ku lindungi segala apa yang mereka miliki.

Memahami Sabda Tuhan ini hendaknya jangan sampai salah mengerti. Manusia tetap berusaha, dan berencana, hasilnya serahkan kepada Tuhan. Karunia Tuhan bukanlah berupa kenikmatan semata-mata. Penderitaan dan kesukaran pun merupakan karunia Tuhan. Tuhan tentunya maha tahu apa yang kita butuhkan. Karena tidak setiap penderitaan dan kesukaran itu merupakan hal yang negative. Banyak penderitaan yang menyebabkan orang bangkit, sadar dan tekun berpegang pada Dharma, akhirnya mereka sukses dalam hidup baik berupa berkecukupan sandang papan dan pangan. Kesadaran dan ketekunan adalah hal yang amat bernilai tinggi dan itu baru didapat setelah Tuhan memberikan penderitaan dan kesukaran hidup.

Rama sebagai putra mahkota kerajaan Ayodya dibuang di tengah hutan oleh ayahndanya, akibat niat jahat ibu tirinya, demikian pula Panca Pandawa dibuang ditengah hutan selama 12 tahun dan 1 tahun dalam penyamaran, karena keserakahan Korawa, hidup mereka penuh dengan penderitaan dan kesukaran. Arjuna salah satu Putra Pandu mendapat senjata-senjata sakti dari para dewa setelah melalui penderitaan yang luar biasa. Mereka tetap menjalani penderitaan dan kesukaran hidup dengan jiwa besar dan kesabaran serta senantiasa dekat dengan Tuhan.

Penderitaan dan kesukaran hidup yang dialami manusia memiliki dimensi yang luas. " Penderitaan dipandang sebagai penderitaan, maka " penderitaan " akan tetap sebagai penderitaan. Kalau " Penderitaan dipandang sebagai " karunia " Tuhan dan " ujian " bagi perjalanan hidup kita, maka penderitaan itu akan merupakan proses penguatan, peningkatan dan penyucian diri bagi manusia dalam pendakian spiritual menuju Brahman. Penderitaan harus dipandang sebagai proses kristalisasi jiwa menuju penglihatan di dalam diri. Penglihatan ke dalam diri akan membawa kemurnian jiwa tanpa selubung kegelapan hawa nafsu yang menggelora. Hanya jiwa yang murni akan dapat menjangkau kesucian Tuhan.



II.SEBAB PENDERITAAN DALAM HIDUP.

Tuhan telah berjanji didalam berbagai kitab suci bahwahsannya Bumi ini diciptakan untuk kemakmuran dan kebahagiaan “manusia”.

Namun kenyataannya sekarang banyak manusia hidupnya stress dan merasakan penuh penderitaan ,hidup terasa sebagai sebuah samudra duka yang tak bertepi.

Mengapa bisa begitu ?
Dalam aksara mandarin tulisan manusia adalah “ren” dibuat dari gambaran dua garis atas dan bawah yang saling menopang.
Yang melambangkan sebuah tubuh akan hidup dan menjadi manusia bila ia ditopang oleh jiwanya.
Jadi manusia artinya adalah sejenis makhluk yang selalu berbuat dengan cahaya jiwanya yang suci ,jiwa yang sempurna yang merupahkan sinar Tuhan dalam dirinya.

Namun dalam kenyataannya banyak orang tak layak di sebut sebagai manusia karena perbuatan dan sikap hidupnya tak mencerminkan ia hidup dengan topangan jiwa yang bersih.

Jadi inilah sebuah renungan kecil ,sudahkah kita menjadi manusia yang seutuhnya dan manusia yang sewajarnya?
Sudahkah kita layak di sebut manusia?
Yang bisa menjawab pertanyaan ini hanyalah kejujuran anda sendiri .

Kalau hidup kita masih dalam keresahan ,kepanikan ,ketakutan,kedengkiaan ,kemarahan dan belum bertemu yang namanya kebahagian dan kedamaian ,marilah kita tengok kedalam diri kita apakah tubuh kita bergerak dan berbuat sudah sesuai dengan kemurnian jiwa kita atau perbuatan kita hanya karena ego dan nafsu kita saja?

Apabila anda sudah damai berarti anda sudah menjadi manusia yang seutuhnya, kalau belum coba ditengok lagi dalam perenungan anda barangkali anda belum menjadi manusia seutuhnya.

Tulisan dari seseorang yang sedang mencoba menjadi “manusia biasa”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar